Monday, January 22, 2018

The White Death, Penembak Jitu Terhebat di Dunia

 


Penembak jitu memiliki keahlian untuk melumpuhkan musuh dari jarak yang jauh. Mereka diwajibkan untuk memiliki keahlian dalam observasi , kamuflase, mengintai dan mengamati medan, hingga memperhitungkan arah angin.

Simo "Simuna" Häyhä, lahir pada 17 Desember 1905 di Rautjarvi, yang sekarang menjadi perbatasan antara negara Finlandia dan Rusia. Simo mulai aktif di dunia militer sejak tahun 1925. Ia memiliki rekor membunuh terbanyak dalam perang musim dingin dengan suhu -20 sampai -40 derajat Celcius.

Dikenal dengan sebutan "White Death" karena dilaporkan telah membunuh 505 orang tentara Uni Soviet di perang musim dingin dengan waktu 100 hari. Dengan menggunakan senjata standar dan iron sight, tanpa menggunakan teleskop karena ditakutkan akan memantulkan cahaya dan tempat persembunyiannya akan terbongkar. Simo berkamuflase menggunakan pakaian berwarna putih di medan pertempuran yang seluruh areanya bersalju.

Berbeda dengan laporan yang ada, beberapa laporan menyebutkan bahwa Simo membunuh antara 200 hingga 500 orang dengan senapan laras panjang, tidak ada angka yang pasti.

Tetapi, laporan dari angkatan bersenjata Finlandia menyebutkan bahwa Simo membunuh dengan rincian sebagai berikut :
  • 22 Desember 1939 : 138 orang dibunuh menggunakan senjata laras panjang.
  • 26 Janurai 1940 : 199 orang dibunuh menggunakan senjata laras panjang.
  • 17 Februari 1940 : 219 orang dibunuh menggunakan senjata laras panjang.
  • 7 Maret 1940 : 259 orang dibunuh menggunakan senjata laras panjang (di saat Simo mengalami luka serius di wajahnya).
Dengan perlengkapan seadanya, Simo bertahan hidup di cuaca ekstrim yang sangat dingin, bahkan dia harus memasukkan salju ke dalam mulutnya agar tidak keluar uap dari mulutnya yang bisa memberitahu posisi persembunyiannya.

Dalam usaha untuk membunuh Simo, tentara Uni Soviet melakukan serangan balasan. Pada tanggal 6 Maret 1940. Simo terkena tembakan di bagian rahang kiri nya, yang ditembakkan oleh tentara Red Army. Temannya yang datang membantu langsung berteriak "Dia tidak mati, tapi sebelah wajahnya hancur !". Dan Simo tetap melakukan tugasnya sampai akhirnya kehilangan kesadaran pada keesokan harinya.


Simo sadar pada tanggal 13 maret 1940, setelah diumumkan perdamaian antara 2 belah pihak. Tidak lama setelah sadar, Simo langsung mendapatkan promosi menjadi Letnan Dua. Membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menyembuhkan wajahnya, karena peluru menghancurkan rahangnya, dan meledakkan pipi kirinya.

Pada tahun 1998, Simo ditanya bagaimana cara menjadi penembak yang baik ? Dan apakah anda tidak menyesal telah membunuh sebanyak itu ? Dia hanya menjawab "Latihan sangat diperlukan, dan saya melakukan apa yang menjadi tugas saya. dan ketika saya mendapatkan perintah untuk melakukan hal tersebut, saya melakukannya dengan sekuat tenaga". Simo meninggal pada tahun 2002 di umurnya yang ke 96.




Baca juga :
1. Simulasi Penjara Stanford
2. Mengenal Skizofrenia