Sunday, February 4, 2018

60 Ribu Bangunan Suku Maya Ditemukan di Guatemala



Dengan menggunakan teknologi laser, arkeolog menemukan sekitar 60.0000 bangunan yang dipercaya sebagai milik suku Maya, di hutan Guatemala. Temuan ini meliputi pondasi rumah, benteng, dan jalan setapak.

"Saya pikir ini adalah salah satu kemajuan terbesar dalam lebih dari 150 tahun dari pencarian peninggalan suku Maya." kata Stephen Houston, seorang arkeolog di Universitas Brown dengan pengalaman puluhan tahun mempelejari budaya Mesoamerika kepada BBC.

"Ini adalah wilayah yang sangat tidak disangka !" kata Sarah Parcak, seorang profesor arkeologi di Universitas Alabama dan seorang rekan National Geographic yang tidak terlibat dalam proyek tersebut.

"Kita akan membutuhkan 100 tahun untuk mempelajari apa yang kita lihat saat ini." kata Francisco Estrada-Belli, seorang arkeolog dari Universitas Tulane, mengatakan kepada National Geographic.



Dengan teknologi yang bernama Lidar, yang digunakan para arkeolog untuk menemukan bangunan-bangunan. Lidar menggunakan jutaan pulsa laser untuk mendeteksi bangunan di dalam lebatnya hutan yang tidak mungkin terlihat dengan mata telanjang. Laser ini dipasang di sebuah pesawat kecil, ataupun helikopter, kemudian gelombang cahaya diukur saat mereka memantul kembali, kurang lebih sama seperti kapal laut yang menggunakan sonar untuk menghitung kedalaman laut.

Sinyal yang didapat kemudian digunakan untuk membuat peta 3 dimensi yang rinci tentang apa yang ada di bawah vegetasi hutan dan lapisan sedimen yang ada. Pengamat yang terampil dapat membedakan, mana struktur yang dibuah oleh manusia, dan analisis lebih lanjut dapat memberitahu peneliti tentang ukuran struktur, dan kapan dibuatnya.


Teknologi ini menyelamatkan waktu yang sangat banyak daripada berjalan-jalan di hutan untuk mencari. Dalam beberapa dekade terakhir, para peneliti memeriksa lokasi di Peten, daerah di Guatemala. Para arkeolog tidak menyadari bahwa bangunan-bangunan yang mereka cari ternyata ada di bawah kaki mereka.

Thomas Garrison, arkeolog yang ikut dalam proyek ini percaya bahwa perkiraan populasi suku Maya 
yang kita tahu sekarang sangat jauh lebih sedikit dibanding kemungkinan yang ada. Diperkirakan populasi suku Maya 3 atau 4 kali lipat dibanding penelitian sebelumnya

Beberapa bangunan yang ditemukan para arkeolog bersembunyi di depan mata. Garrison menggambarkan bagaimana dia datang sejauh 50meter dari salah satu benteng yang ditemukan oleh pemindaian laser, namun tidak pernam menemukannya. Lidar juga menunjukkan sebuah piramid setinggi 7 lantai yang ditelan oleh vegetasi hutan.



Pada puncak kejayaan suku Maya, yaitu sekitar 1500 tahun lalu, semua orang datang ke kota menggunakan jalan setapak yang ditinggikan untuk menjual barang seperti jagung, atau bahkan barang-barang militer. Para peneliti menemukan bukti bahwa orang-orang suku Maya telah secara ahli mengendalikan aliran air untuk mencegah banjir dan menghancurkan bangunan yang ada.

"Kita telah memiliki kesombongan bahwa peradaban kompleks tidak dapat berkembang di daerah tropis. kata Marcello Canuto, seorang arkeolog dari Universitas Tulane.




Baca juga :
1. Air Terjun Darah di Antartika
2. Siput yang Melakukan Fotosintesis