Thursday, February 1, 2018

Air Terjun Darah di Antartika



Pada tahun 1911, seorang ahli geologi bernama Griffith Taylor menemukan aliran air berwarna merah darah muncul dari celah Taylor Glacier di lembah kering McMurdo, Antartika. Dugaan Griffith adalah air tersebut berasal dari ganggang, tetapi setelah diteliti lebih lanjut, air yang mengandung banyak zat besi dan mempunyai rasa asin itu berasal dari air danau bawah tanah yang terjebak oleh gletser selama kurang lebih 1,5juta tahun. Anehnya, air asin tersebut tidak membeku.



Para ilmuwan dari Harvard University pun melakukan sebuah riset lebih lanjut mengenai sungai darah ini. Ternyata, air tersebut merupakan rumah dari ekosistem bakteri yang terperangkap selama ribuan tahun dalam kondisi yang tidak layak huni.

Dan akhirnya, misteri "air terjun darah" ini terpecahkan. Para ilmuwan mengatakan air berwarnam merah yang keluar dari tebing es di ujung selatan bumi itu merupakan bagian dari sebuah jaringan air asin bawah tanah yang luas dan dalam. 



Diperkirakan sekitar 2 juta tahun yang lalu, di bagian bawah wilayah Taylor Glacier berkembang sebuah ekosistem mikroba kuno. Namun akhirnya mereka terperangkap di bawah lapisan es yang tebal tersebut.

Mikroba kuno ini harus menghadapi kondisi kondisi tanpa oksigen, cahaya, dan sedikit panas, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk melakukan fotosintesis. Meskipun mereka bisa bertahan hidup dari mineral yang terjebak bersama mereka. Hal ini membuktikan bahwa kehidupan bisa tetap ada meskipun di dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan sekalipun.

Saat mikroba ini memakan batuan di dalam air, zat besi dilepaskan dari batuan tadi, dan bercampur dengan air asin, yang akhirnya mengubah warna air menjadi merah saat terpapar oksigen di permukaan Bumi. Air asin ini kemudian mengalir ke Danau Bonney dan membentuk apa yang dikenal sebagai air terjun darah atau Blood Falls

Penemuan ini membuka pandangan baru terhadap kehidupan. Ilmuwan mulai memahami berbagai kondisi yang membuat kehidupan beradaptasi agar dapat tetap hidup. Ilmuwan dari Institut Astrobiologi Amerika Serikat pun berspekulasi bahwa duni ini berisi lingkungan air cair subglacial yang bisa menjadi rumah bagi bentuk dasar kehidupan, yang lebih terlindung dari radiasi ultraviolet serta kosmik pada kedalaman tertentu.




Baca juga :
1. Misteri Mata Gurun Sahara
2. Pohon Pisang Terbesar di Dunia