Sunday, February 4, 2018

Hilangnya Keajaiban Dunia ke 8

 

Di distrik Rotorua, bagian utara Selandia Baru, sekitar 25 km di sebelah timur kota Rotorua, terdapat dua danau kecil yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama "Rotomakariri" (Danau Dingin) dan Rotomahana (Danau Hangat). Tepi Rotomahana dihiasi oleh suatu teras travertine paling besar di dunia, yang diciptakan oleh pengendapan mineral dari mata air panas di dekatnya.

Begitu indahnya teras-teras ini sehingga kedua danau ini disebut keajaiban dunia ke 8, dan menjadi daya tarik wisata paling terkenal di Selandia Baru sampai akhir abad ke 19. Hingga akhirnya danau ini menghilang karena letusan Gunung Tarawera di tahun 1886.



2 teras yang bernama White Terraces dan Pink Terraces, secara lokal dikenal sebagai Otokupuarangi. White Terreces berada di ujung danau Rotomahana dan jauh dari danau. Mempunyai luas 3 hektar dan tinggi sekitar 40 meter. Sinar matahari yang memantul memberi penampilan yang lebih terkelantang atau putih.

Sementara Pink Terraces sekitar 800 meter dari jalan ke bawah danau, terlindung dari matahari.. Penampilan merah muda karena terjadi karena kurangnya sinar matahari. Pink Terrace adalah tempat orang untuk mandi, karena suhunya yang lebih rendah. Kedua teras ini dialiri oleh air dari semburan 2 gesyer yang terletak di atas Danau Rotomahana yang mengalir menuruni lereng bukit. Mineral yang mengkristal selama ratusan tahun membentuk struktur teras yang indah.

Tempat ini ditemukan pertama kali oleh para misionaris dan pedagang Eropa. Kabar segera menyebar, dan wisatawan pun datang untuk melihat pemandangan yang indah ini. Selandia Baru saat itu masih susah untuk diakses, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana. Hal ini diikuti oleh perjalanan darat sejauh 150km memakai kendaraan, 20km jalan mendaki, dan 10km naik perahu di Danau Tarawera.

Tetapi semua keindahan ini berubah pada 10 Juni 1886 saat Gunung Tarawera meletus. Ledakan yang melemparkan berton-ton batu dan pasir hingga meliputi daerah sekitar dengan lumpur setebal 1 meter. Letusan itu merusak teras-teras dan menghancurkan beberapa desa, hingga menewaskan hampir 150 orang. Setelah letusan, terbentuk kawab berdiameter lebih dari 100 meter di lokasi teras, kawah ini teriri air dan membentuk Danau Rotomahana baru, 30 meter lebih tinggi dan jauh lebih besar dari danau yang lama.


Menurut peneliti, sebagian teras selamat, hanya saja terkubur di bawah lapisan lumpur tebal, sekitar 50 meter di bawah permukaan danau saat ini. Untuk dapat dipulihkan, satu-satunya cara adalah menguras Danau Rotomahana, yang sangat tidak mungkin untuk dilakukan, mengingat tempat ini masih terisolasi. Yang membuat siapapun tidak akan melihat teras-teras ini lagi.




Baca juga :
1. Bercocok Tanam di Gurun Pasir
2. Siput yang Melakukan Fotosintesis