Wednesday, July 11, 2018

Batu Misterius Di Pulau Gotland



Tersebar di seluruh pulau Gotland, ribuan batu dengan alur aneh, yang potongannya sangat rapi. Alur-alur ini mempunyai panjang, lebar, dan kedalaman yang bervariasi.

Pada pandangan pertama, tampak seolah seseorang mengasah kapak atau pedang mereka. Itu adalah pendapat umum ketika alur secara luas dilaporkan pada pertengahan abad ke-19. Lalu orang-orang mulai menamai alur tersebut sebagai "batu asah".

Tapi para sarjana mulai ragu tentang batu tersebut, karena bentuk dan ukuran alur membuat batu-batu ini tidak cocok untuk mengasah pedang. Seseorang menunjukkan bahwa pada pedang dari zaman batu, bahkan dari abad pertengahan dan zaman viking, terlalu lebar untuk masuk ke dalam batu asah tersebut.



Bukti lainnya adalah kurangnya kapak batu atau senjata lain yang seharusnya berada disekitar batu-batu tersebut. Arkeolog tidak berhasil untuk mengambil sisa-sisa kapak batu, bahkan di tempat-tempat yang dikatakan sebagai gudang pedang.

Pulau Gotland bukanlah satu-satunya tempat yang memiliki batu dengan tanda aneh ini. Batu seperti ini ditemukan di banyak tempat di Eropa, seperti di Norwegia, Finlandia, Prancis, Inggris, dan bahkan di luar Eropa seperti Australia dan India.

Batu-batu ini diperkirakan dibuat di tahun yang sama dengan pembuatan dolmen (kuburan batu) dan menhir. Tetapi tidak ada tempat lain yang mempunyai batu yang aneh ini dalam jumlah banyak selain di Pulau Gotland.



Beberapa peneliti meyakini bahwa batu Gotland ini mempunyai hubungan astronomi, seperti halnya Stonehenge. Banyak lekukan yang tampak sejajar dengan benda-benda langit, seperti matahari atau bulan.

Orientasi alur telah ditafsirkan secara berbeda oleh para sarjana. Beberapa percaya bahwa lekukan itu adalah semacam kalender bulan, sementara yang lain menawarkan penjelasan yang lebih sederhana.

Sejauh ini, lebih dari 3.600 batu telah ditemukan di Gotland, dimana sekitar 700 merupakan batu kapur.




Baca juga :
1. Patung Kayu Tertua Di Dunia
2. Seorang Pria Membuat Kuil Di Bawah Tanah Selama 23 Tahun