Friday, July 13, 2018

Museum Tertua Di Dunia



Sir Charles Leonard Woolley, merupakan arkeolog yang terkenal di awal abad ke-20. Pada tahun 1925, ketika sedang meneliti sebuah istana di pinggiran kota Mesopotamia kuno, Ur, yang dibangun sekitar tahun 500 SM oleh Raja Nabonidus, ia menemukan museum tertua di dunia.

Penemuan ini dilakukan secara kebetulan dan tidak terduga. Di beberapa ruangan yang saling berhubungan di dalam kompleks istana, Woolley dan timnya menemukan sejumlah barang yang ternyata jauh lebih tua dari istana tersebut, bahkan lebih tua dari Kekaisaran Neo-Babylonia



Berbagai macam benda termasuk fragmen batu antropomorfik yang bertuliskan nama "Dungi", seorang raja yang memerintah Kekaisaran Sumeria sekitar tahun 2029 hingga 1989 SM. Dan juga terdapat tablet tanah liat dari kota kuno Sumeria.

Catatan awal Woolley tentang penemuan itu, yang diterbitkan di bukunya "Ur or the Chaldees : A Record of Seven Years of Excavation" mengungkapkan bahwa penemuan tersebut membuat para arkeolog tercengang dengan temuan yang tidak biasa.

"Apa yang harus kita pikirkan? Di sini ada setengah lusin benda yang berbeda-beda yang ditemukan tergeletak di trotoar bata yang tidak terputus pada abad keenam SM, namun yang terbaru dari mereka adalah tujuh ratus tahun lebih tua dari trotoar dan yang paling awal mungkin enam ratus tahun" tulisnya.



Namun, penelitian selanjutnya segera mengangkat tabir misteri yang ada. Ditentukan bahwa barang-barang tersebut merupakan koleksi pameran yang dimiliki oleh Putri Ennigaldi, atau Bel-Shalti-Nanna, putri Raja Nabonidus.

Putri Ennigaldi adalah wanita yang luar biasa dan mempunyai pengaruh besar, ia juga melayani sebagai High Priestess of Ur. Menurut Woolley, ruangan-ruangan tempat barang-barang tersebut ditemukan telah dibangun secara khusus atas permintaan Putri Ennigaldi, dan menjadikannya sebagai kurator museum tertua di dunia.

Masih belum diketahui apakah orang-orang biasa diizinkan masuk ke dalam museum, yang sekarang dikenal sebagai Museum Ennigaldi-Nanna, tetapi para aristokrat pada waktu itu tidak diragukan lagi dapat memanjakan mata mereka melihat koleksi-koleksi yang ada.



Masa keemasan Putri Ennigaldi tiba-tiba berakhir pada 539 SM, ketika kekaisaran Neo-Babylonia runtuh, dan menjadi bagian dari Kekaisaran Persia, hingga abad ke-20.

Apa yang telah dicapai oleh Putri Ennigaldi langsung hilang ditelan waktu dan debu. Namun, berkat upaya Sir Woolley dan banyak arkeolog dan antropolog lainnya, sekarang diketahui bahwa orang-orang Neo-Babel adalah orang-orang yang progresif dan ingin tahu.

Dan juga diketahui bahwa museum tertua ternyata dikuratori oleh orang wanita.




Baca juga :
1. Istri Diceraikan Karena Menghina Pemain Favorit Suaminya
2. Patung Kayu Tertua Di Dunia