Sunday, July 1, 2018

Pulau Surtsey, Sebuah Pulau Yang Baru Berumur 50 Tahun



Pada tanggal 14 November 1963, awak kapal Isleifur II yang sedang berada di perairan di dekat Islandia melihat asap yang baik dari permukaan laut. Sebuah pulau baru, yang akhirnya dinamakan Pulau Surtsey, telah muncul ke permukaan.

Awalnya, kapten kapal Isleifur II mengira itu adalah sebuah perahu yang terbakar, dan kemudian ia mengubah jalur kapalnya untuk menyelidiki kepulan asap tersebut. Ternyata, apa yang mereka temukan adalah sebuah letusan gunung berapi bersifat eksplosif yang berasal dari bawah permukaan laut, asap berwarna hitam pekat.



Pulau baru tersebut akhirnya diberi nama Surtsey, dari nama Surtur (ras raksasa mitologi Norse).

Hanya setelah beberapa hari tanpa henti meletus, pulau baru ini memiliki panjang lebih dari 500 meter, dan telah mencapai ketinggian 45 meter. Letusan terus berlanjut hingga terkonsentrasi pada satu lubang dan mulai membangun pulau menjadi bentuk yang lebih melingkar.

Ledakan keras yang disebabkan oleh pertemuan lahar dan air laut ini menandakan bahwa pulau ini terdiri dari tumpukan batu vulkanik, yang terkikir dengan cepat oleh badai Atlantik Utara selama musim dingin.

Namun pada awal 1964, letusan yang terus menerus telah membuat pulau itu sedemikian rupa sehingga air laut tidak dapat jatuh lagi ke laut, dan aktivitas gunung berapi menjadi lebih tidak eksplosif dibanding sebelumnya. Letusan efusif berlanjut hingga 1965, hingga saat itu pulau Surtsey memiliki luas permukaan 2,5km persegi.

Pada tanggal 28 Desember 1963, di bawah laut, sekitar 2,5 km ke timur laut dari Pulau Surtsey terbentuk bukit setinggi 100m di dasar laut, yang dinamakan Surtla, tapi tidak pernah mencapai permukaan laut.

Letusan tersebut terjadi selama tiga setengah tahun, hingga berakhir pada Juni 1967. Diperkirakan, total volume lava yang dikeluarkan mencapai satu kilometer kubik. Titik tertinggi di pulau tersebut mencapai 174 meter di atas permukaan laut.

Sejak letusan terakhir, erosi telah mengikis pulau ini. Daerah yang luas di sisi tenggara telah terkikis sepenuhnya, dan ketinggiannya berkurang menjadi 155m.

Para ilmuwan pun membuat garis pembatas untuk mengukur perubahan bentuk pulau. Dalam 20 tahun setelah letusan, pengukuran mengungkapkan bahwa pulau itu terus mengecil, yang dikarenakan beberapa penyebab.



Dalam waktu dekat, mungkin pulau ini tidak akan lenyap. Daerah yang terkikis sebagian besar terdiri dari tephra, yang mudah terbawa angin dan air laut. Sebagian besar wilayah yang tersisa dibatasi oleh aliran lava yang keras, dan lebih tahan terhadap erosi.

Menurut perhitungan para ilmuwan, jika tingkat erosinya tidak berubah, maka pulau ini akan hilang di tahun 2100. Namun, tingkat erosi cenderung melambat karena inti pulau yang lebih keras.

Diperkirakan pulau ini akan tetap bertahan selama beberapa abad.




Baca juga :
1. Jenazah Bergaya Di Atas Sepeda Motornya
2. Seorang Pria Dari Inggris Tidak Bisa Sendawa Selama 34 Tahun